Jan 19, 2016

Can Please Everyone? Kamu Greget.

"Sudah berapa tahun kamu hidup?"

"18 tahun, Pak. Hampir 19."

"Sudah berapa orang yang kamu buat bahagia?" 

"Umm."

"Sudah berapa orang yang kamu buat kecewa?"

"Emm."

Gue diem, gak bisa jawab. 
Di satu sisi merenung, merasa powerless, merasa bener - bener gak berguna karena rasa - rasanya gue hidup sudah lama tapi berkontribusi terlalu sedikit buat dunia. Gue belum ngapa - ngapain. Jangankan buat dunia, buat orang - orang di sekitar gue aja rasanya gue masih lebih banyak nyusahin daripada bantuin dan bikin bahagia.

Tapi di sisi lain, gue bela diri. Gue udah jadi lumayan berguna kok. Sampe akhirnya gue sibuk ngitungin anak siapa aja yang udah gue bikin terharu nangis bahagia. Ada, ada beberapa. Tapi terlalu sedikit. Gue salah ngitung, matematika gue lemah. No. Gue cuma gak inget orangnya, otak gue lemah. 

Setelah pikir - pikir lagi, akhirnya gue dapet konklusi : Gak tau berapa jumlahnya, yang jelas lebih banyak orang yang gue buat bahagia ketimbang yang gue buat kecewa. Itu, itu jawaban buat pertanyaan di atas.
Gue udah usaha semampunya, gimana caranya biar gue bisa bawa perdamaian dunia yang indah dan semua orang bahagia. Gue udah coba ngelakuin apa pun yang menurut gue paling baik buat semua orang. Gue udah usaha biar semua orang seneng, ya at least  gak marah, gak sedih, dan gak kecewa karena gue.

***

Dan man, ternyata setelah gue pikir - pikir - pikir lagi, ternyata enggak gitu. Gue salah, gue sok tau, gue sok baik.

Gue setiap hari bergerak, dan nggak ada pergerakan yang berat sebelah. Gak ada pergerakan yang efeknya cuma satu. Ibarat akuntansi, hidup ini pembukuan berpasangan, mesti ada yang di debit dan di kredit, di satu sisi bertambah dan di sisi lain berkurang. Ibarat teori ekonomi mikro, hidup ini rivalry in consumption, setiap kepuasan hidup lo nambah satu itu artinya lo bakal ngurangin kepuasan hidup orang lain. 

Simply
Kalo gue dapet nilai ulangan bagus, gue seneng, ortu gue seneng, guru sama temen baik gue juga seneng. Seems positive. Tapi ternyata ada orang yang dongkol di luar sana karena gue kalahin nilainya. 

Kalo mantan gue taken, doi bahagia sama pacar barunya. Apa daya gue yang masih gagal move on kena negative side-nya, galau berkepanjangan sampe rasanya pingin cakar - cakar muka pacar barunya. 

Kalo udah gini salah siapa? Salah gue nyari kesenengan buat diri sendiri dan ngorbanin orang lain? Salah gue kalo nilai gue bagus dan temen gue kesel?
Atau salah orang lain yang nyari kesenengan buat dirinya sendiri dan ngorbanin gue? Salah mantan kalo taken dan gue dibiarin galau?

Ga juga, man. 
Pada dasarnya tiap orang usaha buat nyenengin dirinya sendiri. Bukan cuma gue, tapi setiap orang. 
Semua orang juga seneng kalo kesenengannya bisa dibagi sama orang lain. Setiap orang juga mau dunia ini aman, tenteram, damai, dan hidup bahagia selamanya. 
Masalahnya kalo bisa, kalo aja bisa. 
Kalo aja acceptance itu gampang. Kalo aja nerima kita kalah, kita salah, kita lelah itu gampang. 

Abang gue pernah bilang :


If you mind to please anyone, you have to sacrifice your own self. 
Help everyone, everyone would be happy, but you lost your chance.
Cheer everyone, everyone would be happy, but you get tired of them.

Ngomong soal mikro ekonomi lagi, katanya, happiness is a scarce. Jumlahnya terbatas. Jadi mesti rebutan. Yang nggak kebagian, jangan salahin yang dapet bagian. 

Peace up. 

Dec 21, 2015


The Korean drama once told me this. 
To make everything clear. To say yes or no instead of maybe, so no one would expect me that high. 

But it just hard, baby. 
Cause I'm afraid of disappointed people. 






Bangun.


Bangun.
Biar subuhnya dingin, biar yang dikodein gak juga ngasi pelukan, biar rasanya berat, bangun itu harus. Harus.
Tidur dan sembunyi nggak bakal bikin semuanya lebih baik.
Ada pagi di luar sana. Ada harapan, ada yang indah, ada semuanya.
Jangan biarin pagi ini hilang.
Keluar.
Subuh sudah tadi, sudah lewat.
Dingin itu harusnya sudah pergi.
Peluk itu harusnya sudah nggak diharapkan lagi.
Ada matahari, orang lain juga sudah banyak yang bangun.
Keluar.
Lihat orang lain bangun dan bersenang – senang di pagi hari bakal jadi lebih sakit dari waktu subuh.
Bangun.
Nikmati.

Buat bahagia sendiri. 

Oct 7, 2015

Numb


Hmh.
It's all the breath with nothing that fulfil my brain this second. Somehow feels so numb. Not happy, not sad, but blank. Sitting in a place with mie ayam and teh botol all alone, seeing the vehicles passing by under the super hot sunshine, I find my self asking to me : what is this? what am I doing right here?
I dont know, why I asked so.

Commonly, life has its own sense : sweet, or bitter or probably salty. But me right now just feeling nothing. I'm just forget that way how to be sad and happy, how to cheer, how to be in love and much much much more how to be. I lost me. I lost the point of doing life, I don't know why. I had lost the spirit, the love and the desire, being numb like today and yesterday, feels empty both in the head and chest. The life begin with nothing’s left. The dream has gone, the love lost it’s way, and the believe falls. Again, I have to build a new life, promptly from zero.  


Kadang rasanya pingin nge-rewind semuanya dari awal. Pingin balik ke belakang, usaha lebih keras lagi supaya mimpinya nggak terbang ke mana - mana. Pingin mencinta lebih baik supaya pacarnya nggak jadi mantan. Pingin baca lebih banyak supaya tau lebih banyak. Pingin nyari temen lebih banyak supaya hidup lebih menyenangkan. Pingin berdoa lebih sering supaya galaunya makin jarang. Pingin makan lebih sedikit, lari lebih jauh, tidur lebih cukup, travelling lebih sering, tertawa lebih banyak, dan lain lain lain.

But I can't.

Yesterday is yesterday and I have no idea about going back to the past.
I have to move foward within the great me, the great life. 
Just tell me how to start again.
I beg.

Aug 6, 2015

The Art of High School Life



Zaman edan.
Waktu gue males banget bangun pagi tapi sama sekali nggak pernah telat.
Waktu sembahyang pagi di sekolah bukan cuma buat ketemu Tuhan, tapi buat liatin doi. 
Waktu bikin guru marah adalah hal yang lucu.
Waktu gue sering bolos tapi ngakunya dispen.
Waktu kelompok gue presentasi, guenya diem di kantin.
Waktu jam kosong nyanyi rame - rame di kelas.
Waktu gue sering masuk koran. 
Waktu ngelanggar peraturan jadi trend.
Waktu iphone5 jadi gadget primadona.
Waktu ulang tahun jadi hal yang seru dan spesial.
Waktu gue pada akhirnya nyesel nggak ngerti matematika.
Waktu main sama mereka sampe larut dan dikunciin Emak.
Waktu gue ngerti enaknya jadi manusia umur belasan yang udah bisa kemana - mana dan ngapa - ngapain.
Waktu gue nggak punya rasa takut.
Waktu gue nggak peduli soal besok dan besoknya lagi.
Waktu tanggung jawab bukan jadi beban.
Waktu masa depan bukan jadi prioritas.
Waktu bisa bebas.

Jul 23, 2015

Selamat ulang tahun, kemarin.
Semoga bahagia
Maaf long postnya kapan2 aja ya. Mager. 

Jul 13, 2015

ZAD

Hidup kadang berat. 

Kadang kita pingin maju, tapi dunia bilang nggak boleh.

sering kita pingin jadi sesuatu yang lebih baik, tapi dunia nggak ngasi kesempatan. 

Katanya, dunia cuma butuh kita yang segini aja. Bukan kita yang hebat dan luar biasa.

Rasanya jahat.